JABARONLINE.COM - Idul Fitri identik dengan kalimat yang biasa terdengar di telinga “mohon maaf lahir dan batin.” Ucapan itu biasanya hadir di pesan WhatsApp, status media sosial, hingga pertemuan langsung. Namun, di tengah kemudahan menyampaikan kata maaf, muncul pertanyaan sederhana "apakah kita benar-benar memahami makna dan tujuannya?"
Dalam perspektif Bimbingan Konseling Islam, meminta maaf bukan sebatas tradisi, melainkan bagian dari proses Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa). Mengakui kesalahan membutuhkan kesadaran diri, sementara memberi maaf menuntut kelapangan hati. Keduanya tidak muncul dari formalitas, tetapi dari kejujuran dan kesungguhan diri.
Sayangnya, tidak sedikit yang menjadikan momen ini sebagai rutinitas tahunan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia (Hablum Minannas) memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Luka yang dibiarkan tanpa penyelesaian, tidak akan hilang hanya dengan satu kalimat singkat.
'Idul Fitri seharusnya menjadi ruang konseling alami dan momen untuk berdamai, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Berani memberi dan meminta maaf secara tulus, dan lebih dari itu, berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Maka, maaf lahir batin bukan hanya tentang apa yang terucap, tetapi tentang apa yang benar-benar disadari dan diperbaiki.
Penulis: Mutawarudin, S.Pd